Friday, March 31, 2017

Sales Bank Mau Promosi, Nasabah Berceramah Ramah


Ini pengalaman serupa yang kesekian kalinya. Alih-alih terima telepon dan mendengarkan telemarketer/ sales berpromosi, aku malah kasih ceramah nan ramah sepanjang satu jam (beneran), sambil menyampaikan uneg-uneg kekecewaan pelayanan korporat yang diwakili petugas sales tsb. Lalu, sedikit menyuplik kegiatanku menulis di Kompasiana yang (hanya) sesekali itu.

Kubilang, "Sudah lama saya ingin menuliskan pelayanan buruk "nama korporat" ini, tapi kecuali kalau sangat fatal akibatnya -- saya memang agak lambat menuliskan keluhan secara publik.
Sebaliknya saya bisa spontan menuliskan apresiasi atas pelayanan yang baik oleh korporat yang saya amati berproses dari mutu "kurang" berubah menjadi "sangat memuaskan". Hanya saja, menuliskan pujian atas pelayanan korporat / produk merek tertentu perlu bijaksana juga. Salah-salah orang mengira saya dibayar atau mendapat sponsor untuk menuliskan "testimoni" sukarela itu.
(Mas Sales tertawa).

Tadi pagi, aku membuat si sales citibank mendengarkan "ceramah'ku selama satu jam dengan suka rela. Lalu katanya, "Karena percakapan ini direkam, maka waktunya maksimal 1 jam. Karena keluhan ibu menyangkut bidang lain, maka rekaman percakapan tadi akan saya "forward" ke bagian terkait. Terima kasih, saya mendapatkan banyak pelajaran."

Nama akun di Kompasiana apa, Bu. Saya jadi pengin baca tulisannya."

Aku tertawa, "Ayo sekalian nulis di Kompasiana, Mas!"
Sales, "Oh, bukan yang blog pribadi, ya Bu? Lebih suka nulis di situ? Saya nggak pede menulis."
Aku kembali tertawa, "Iya, kalau di 
Kompasiana itu pembacanya kan dari kalangan yang lebih luas. Di sana siapa saja boleh menulis, juga buat yang merasa nggak bisa nulis."

Ngomong-ngomong sudah berapa lama bekerja di tempat sekarang?"
Sales, "Baru satu tahun, Bu."
"Ah, jadi tidak sia-sia saya tadi cerita soal korporat Anda dan membandingkan mutu pelayanannya sebelum dan sesudah sekitar sepuluh tahun terakhir ini. OK, saya juga mau melanjutkan pekerjaan yang tadi terinterupsi oleh telepon Anda. Semoga sukses dengan tugasnya, ya?
Sales, "Haaha, amin, amin, terima kasih doanya, Bu."

4 oktober 2016 | @IndriaSalim

Tulisan ini pertama kali diunggah oleh Penulis di Kompasiana

Gerson Poyk, Semangat dan Gagasan Idealismu Tetap Menginspirasi


Bagiku menolong orang bukan didorong oleh semacam rasa superior atas orang lain. Atau untuk dipuji dan dihormati. Bukan. Di dalam jiwaku ada semacam imperatif kategoris, semacam perintah dari dalam diri untuk berbuat baik kepada orang lain.”

Demikianlah sepenggal kutipan cerpen karya Gerson Poyk – “Jaket Kenangan” yang dimuat di Kompas Minggu, 24 April 2016. Kini Sang Sastrawan baru saja menghadap Sang Khalik, tepatnya pada hari ini, Jumat – 24 Februari 2017 di usianya menjelang 86 tahun.

Penulis mengetahui berita duka ini dari facebook putrinya – Fanny Jonathan Poyk yang juga seorang penulis senior yang dihormati.

Dilahirkan di Namodele, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, 16 Juni 1931, Gerson Poyk adalah tamatan SGA Kristen Surabaya pada tahun 1956. Pernah menjadi guru SMP dan SGA di Ternate (1956-1958) dan Bima -- Sumbawa (1958). Almarhum sempat menekuni bidang jurnalistik sebagai wartawan harian Sinar Harapan (1962-1970).

Mengingat kesederhanaan kehidupannya selama ini, khususnya dalam keterbatasan ekonomi seorang sastrawan idealis, mungkin tidak banyak yang tahu bahwa beliau adalah penerima beasiswa International Writing Program di University of Iowa, Iowa, yang beliau ikuti dari tahun 1970-1971. Pengalaman internasional lainnya yaitu menjadi peserta seminar sastra di India pada tahun 1982.

Pencapaian Lain

Selain sudah menerbitkan puluhan buku dan menulis cerpen, Gerson Poyk juga meraih banyak penghargaan, antara lain: Hadiah Adinegoro (tahun 1985 dan 1986), hadiah sastra ASEAN (1989), SEA Write Award, dan Lifetime Achievement Award dari harian Kompas.

Cerpen Gerson Poyk berjudul “Mutiara di Tengah Sawah” mendapat Hadiah Hiburan Majalah Sastra (tahun 1961), cerpen “Oleng-Kemoleng” mendapat pujian dari redaksi majalah Horison sebagai cerpen yang dimuat di majalah itu pada tahun 1968.

Karya-karyanya antara lain: Hari-hari Pertama (1968), Sang Guru (1971), Cumbuan Sabana (1979), Giring-giring (1982), Matias Akankari (1975), Oleng-kemoleng & Surat-surat Cinta Rajagukguk (1975), Nostalgia Nusa Tenggara (1976), Jerat (1978), dan Di Bawah Matahari Bali (1982).

Semangat berkarya Gerson Poyk luar biasa, terbukti dengan kehadirannya dalam bedah buku kumpulan puisi karyanya sendiri “Dari Rote ke Iowa”. Itu terjadi pada sebuah acara bedah buku dan pembacaan puisi berjudul “Berpuisi di Rumah Rakyat”, 6 Oktober 2016 di Gedung MPR di Senayan, Jakarta. Kumpulan puisi ini tercatat merupakan kompilasi karya Gerson Poyk yang dibuat sejak tahun 1950-an, menyajikan semacam kisah perjalanan kehidupannya selama menggeluti dunia jurnalistik maupun penulisan karya sastra.

Editor Kompas Putu Fajar Arcana dalam sebuah wawancaranya sekitar 4 tahun lalu, mengutip ungkapan Sang Sastrawan ini demikian, “Menulis tentu bukan sekadar ingin dimuat media dan kemudian hidup. Saya ingin Indonesia ini sadar bahwa kita punya kebudayaan begitu kaya. Makanya sejak dulu saya ingin ada desa budaya-desa budaya di seluruh Tanah Air. Masa depan Indonesia itu ada di desa. Saya yakin kalau desa itu hidup, separuh dari penduduk Jakarta ini pulang kampung.”

Dunia sastra Indonesia berduka cita. Penulis sampaikan turut berduka cita sedalam-dalamnya kepada keluarga Gerson Poyk, termasuk mBak Fanny Jonathan putri yang selama ini sangat dekat dengan keseharian beliau, mewarisi semangat berkarja penuh idealisme tinggi dari Sang Ayahanda. Adios, Rest in Peace Bapak Gerson Poyk. Semoga arwahnya diterima di tempat terbaik di sisi-Nya. |@Indria Salim-24.02.2017

Referensi:

1

2

3

4

Tulisan ini sebelumnya dikirim Penulis di Kompasiana

Hubungan Antar Sesama Manusia -- Sebuah Sudut Pandang


Lucu itu bila kesehariannya tidak berminat mengenal tetangga padahal keluarga itu pendatang baru (sejak 2-3 tahun ini). Kecenderungannya merugikan, dan itu dirasakan oleh tetangga kanan kirinya. Tampak ada yang "dibanggakannya" padahal ... https://www.facebook.com/images/emoji.php/v7/f4c/1/16/1f642.png ðŸ˜Š


Aku secara naluriah mengabaikan hal itu, dan tidak segan mendahului menyapa. Pertama responnya dingin, kedua nggak begitu dingin tapi sama sekali tidak ada penghargaan atas sapaanku. Ketiga kalinya mendadak nimbrung bicara ketika aku dan beberapa tetangga heboh soal peristiwa kebakaran di lain tempat.


Kemudian sejak itu ybs. mulai tersenyum menanggapi sapaanku. Ya! Sebatas merespon dengan senyuman tipis. Ybs. itu pasutri, dan yang mulai komunikatif ini si isteri yang seringnya belagak sibuk ngobrol berbahasa Inggris dengan anaknya, atau sibuk dengan HP-nya setiap kali aku berpapasan. Tetangga lain sih, pada cuek terhadapnya, cenderung kesal.


Aku tidak terlalu memikirkannya. Sampai pada hari ini dia lewat. Spontan kusapa dan kutawari mangga yang baru kami petik hari ini. Tetangga lain sudah dapat bagian. Dia tersenyum dan bilang mau. Kumasuk mengambil buah yang di dalam rumah. Begitu aku nongol lagi di halaman, sapaan pertamanya bikin aku kaget karena dia "mempertanyakan" penataan pot-pot tanamanku yang kufungsikan sebagai pagar.


Usil juga ibu ini. Nggak pernah menyapa, sekalinya kuajak berkomunikasi kok kagak simpatik. Kubandingkan dengan beberapa tetangga lain yang biasa ngobrol denganku. Kami saling tukar info atau kisah lucu dan lain-lain, tapi tak satu pun di antara kami yang "mencampuri atau kepo" dengan urusan pribadi masing-masing.


Kesimpulan hari ini: Orang bi.sa ramah dengan pihak lain yang lokasinya berjauhan, sekaligus meremehkan dan tidak mengacuhkan pihak yang begitu dekat di lingkungan rumahnya.

Orang yang tampak terlalu gengsi menyapa, tidak peduli lingkungan, ternyata bi.sa lebih kepo dan usil daripada orang yang tampaknya ramai, heboh, dan "interaktif". Mungkin ini soal karakter yang terlalu "kuat" -- terlalu kuat ego dan kebanggaan dirinya ...
Kalau aku cerita begini, biasanya orang bilang, "Hmm kalau itu aku, biarin aja kita nggak usah kenal dengan orang sombong begitu."
https://www.facebook.com/images/emoji.php/v7/f4c/1/16/1f642.png 



Ya gitu deh, keramahtamahan kadang dianggap murahan atau bentuk pengakuan bahwa si ramah itu lebih "sepele" dibanding dirinya yang "hebat."

Dalam hal begini (analogi dalam dunia politik, interaksi dunia maya, interaksi komunitas, dll), apakah kita seiman, sesuku, sepenciptaan atau tidak -- ujung-ujungnya kembali kepada individunya. Pergaulan juga bukan karena kita seiman, sesuku, seprofesi, dan "persamaan-persamaan" lainnya, kan?





Artikel ini sebelumnya dikirim Penulis di Kompasiana

Mengubah Rasa Terpuruk Menjadi Semangat Membara


Judulnya bombastis ya? Sengaja, sih, karena ini dimaksudkan untuk mendongkrak kegalauan. Kegalauan siapa? Ya siapa saja yang merasa galau. Manusia mana yang sepanjang hidupnya tidak pernah sekalipun mengalami kegalauan, putus asa, pesimis akut maupun dadakan, dan seabreg suasana emosi maupun muatan pikiran yang sifatnya negatif lainnya.

Contoh pernyataan di atas itu apa? Misalnya nih, seorang karyawan yang rajin dan sangat berdedikasi terhadap tugas dan tanggungjawabnya di kantor, mendadak merasa terpukul karena tanpa sengaja melakukan kesalahan yang membuatnya kehilangan muka di lingkungan kantornya. Sudah begitu, hampir tidak ada teman-teman yang tampak memberinya dukungan yang membangkitkan semangatnya. Yang ada malah orang ramai-ramai, terus terang, atau bisik-bisik merisak (red: melakukan bully). Tentu itu hak orang yang seringnya di luar kontrol. Kalau sudah begitu, penting bagi karyawan tersebut untuk melakukan instrospeksi, namun juga usaha mengambil pelajaran sebagai hal yang bermanfaat buat perbaikan dan kepercayaan diri selanjutnya.

Contoh lain, seorang mahasiswa ketahuan melakukan plagiat. Makalah yang diserahkan pada dosen, dianggap terlalu “sempurna”. Di depan kelas, dia dipanggil dosen untuk berbicara setelah jam kuliah. Semua temannya pada kepo. Ternyata, dosennya mencurigai bahwa makalah Si mahasiswa itu hasil plagiasi. Andaikata itu terbukt, kebayang kan bagaimana malunya? Nah, intinya – orang lalu bisa melupakan peristiwa itu. Namun belum tentu orang yang sempat kehilangan muka itu dapat segera melupakan begitu saja insiden tersebut. Memang itu tergantung pada pribadi masing-masing orang. Ada yang mudah move on, ada yang perlu waktu pemulihan.

Cukuplah contohnya. Kita fokus pada solusinya, deh. Kok kita? Lho kan aku dan para pembaca? Tulisan ini memang tidak hanya ditujukan kepada pembaca, penulisnya pun tidak terkecuali.

Sebagian orang membayangkan hidup penuh keberhasilan, sebagian lainnya langsung melakukan usaha menuju keberhasilan. Mari kita renungkan mengapa kedua kelompok itu berbeda. Para pemimpi tanpa aksi, cenderung menjadikan rintangan sebagai alasan “berhenti melangkah.” Sebaliknya, para peraih mimpi tidak mudah menyerah pada hal-hal yang membuatnya berhenti, atau menghentikan langkahnya untuk maju, dan mengalahkan rintangan.

Apakah Kendala dan Rintangan Itu? Kendala atau rintangan adalah hal-hal menakutkan yang kita lihat, dengar, atau bayangkan. Hidup bukan hidup bila tanpa rintangan atau masalah. Pertanyaannya, bagaimana kita menghadapinya agar tetap hidup, tidak sekadar bertahan namun malah melompat jauh dan tinggi. Tentu keterampilan melalui rintangan, atau mengatasi kendala itu tidak serta merta dikuasai oleh setiap orang. Ada yang memang lebih tabah, ada juga yang perlu proses panjang dalam memahami soal ini. Mungkin salah satu cara agar orang bisa lebih tangguh adalah belajar realistis, namun sekaligus gigih. Realistis itu mencakup sikap penerimaan bahwa diri kita tidak kebal dari kesalahan, dan risikonya.

Tetap mengingat dan fokus pada tujuan:
Ketangguhan terkait dengan motivasi diri. Motivasi diri membuat kita fokus pada tujuan, juga dalam menjalani kehidupan ini. Itu.

Kita adalah pengukir karya kita sendiri
Dalam memikul tanggung jawab, meraih cita-cita atau tujuan hidup – orang lain bisa menjadi mitra perjalanan, mentor, Guru, pendukung, atau apa saja. Namun perlu diingat bahwa pada akhirnya diri kita sendiri yang menjalaninya. Maka, diri ini harus dikuatkan dengan keyakinan bahwa kalau bukan diri sendiri yang menjaga api semangat dan membuat langkah tindakan, lalu siapa lagi?

Tujuan hidup dan misinya:
Bila ingin meraih mimpi menjadi nyata, hal pertama yang harus kita lakukan adalah bangun dari mimpi. Hadapi realita, perhitungkan potensi yang mungkin, antisipasi kendala agar kita siap mengatasinya, dan
go!

Selalu bersikap dan bertindak seakan kita mengenakan mahkota tersembunyi – Ibelajar menjadi sang pemenang, bertindak dengan mental juara apapun hasil akhirnya. Ini bukan tentang capaian saja, namun lebih pada pembentukan sikap mental.

Buang pikiran yang mengatakan, “Kamu tidak mampu”, dan genggam pikiran “Aku bisa”. Rasanya poin ini sudah jelas, kan ya? Dengan penanaman konsep di benak bahwa “Aku bisa”, tanpa kita sadari hal ini akan mengarahkan kita pada pemikiran yang berfokus pada hal-hal yang mendorong tindakan menuju pencapaian. Satu tahap, lanjut dengan tahap berikutnya, dan seterusnya sampai garis akhir – pencapaian tujuan.

Kegagalan sebenarnya dapat merupakan batu pijakan menuju keberhasilan.

Siapa yang belum pernah mendengar nama Walt Disney? Ia adalah produser, sutradara dan animator film ternama dari Amerika Serikat, yang berpengaruh di bidang hiburan di abad 20. Sebagai tokoh pendiri Walt Disney Productions, Disney menjadi salah satu produser film paling terkenal di dunia. seorang penerbit film tersohor di dunia. Dia pernah mendapatkan penolakan ribuan kali dari editor koran besar, yang menilai bahwa dia tidak berbakat.

Ada Thomas Alva Edison, Si Penemu listrik yang terus berusaha meskipun sempat gagal 10,000 kali. Juga Presiden Amerika Serikat ke-16, Abraham Lincoln. Dalam biografinya disebutkan bahwa dia mengalami kegagalan bisnis pada usia 21, lalu kesedihan menimpanya karena kekasihnya meninggal pada usia 26, ditambah lagi dia sempat terkena sindrom kesehatan serius.

Mereka itu adalah contoh-contoh menonjol dari orang-orang yang meraih keberhasilan setelah mengalami perjuangan keras dan mengatasinya dalam ketangguhan mental. Maka banyak mengamati, mempelajari, atau membaca perjalanan hidup orang-orang sukses dan orang “besar” itu perlu sebagai asupan positif yang penting buat otak dan mental kita. Ini salah satu cara untuk mengubah pikiran negatif menjadi sebaliknya.

Kesabaran, ketekunan, keuletan, kerja keras akan menjadi perpaduan tak terkalahkan menuju keberhasilan. Lakukan apa yang bisa kita lakukan sekarang. Jangan menunggu. Tidak akan pernah ada waktu yang tepat. Mulai rencanakan apa yang Anda ingin kerjakan untuk menuju cita-cita, dan langsung mulai lakukan.

Siap nggak siap, realisasikan rencana tindakan ini. Mulai dengan pikiran positif, tindakan nyata, ambil tanggung jawab dengan tulus ikhlas, dan bila kemauan Anda cukup kuat, maka kekuatan diri akan muncul dengan sendirinya. Aku melakukan tindakan nyata, maka aku ada. Yang terakhir ini sebenarnya adalah mengadopsi sebuah ungkapan terkenal oleh filsuf Perancis bernama Descartes, “Cogito ergo sum” – yang artinya "aku berpikir maka aku ada".

Semangat! Nikmati video ini dulu deh. |2017-03-21| @IndriaSalim

*Tulisan ini juga dimaksudkan untuk menyemangati Penulis sendiri. Salam Kompasiana*




Artikel ini adalah arsip kiriman Penulis di Blog Kompasiana Ini

Siapapun Pemimpin Itu, Semoga Amanah


Melihat Ahok di program Kick Andy, MetroTV kemarin (24/03/2017), saya semakin heran kalau demi “asal bukan Ahok” orang tidak mempertimbangkan jomplang-nya (baca: tidak sebanding-nya) mutu pasangan calon gubernur-calon wakil gubernur DKI Jakarta  nomor urut 2 daripada yang lainnya.

Mutu tidak selalu hanya merujuk pada program, namun pola pikir esensial seorang pemimpin, siapa pun itu.

Pemimpin, diharapkan berpola pikir lebih berbobot daripada orang biasa.
Pemimpin berpandangan jauh ke depan, melihat suatu masalah secara mendalam, memikirkan solusi dengan terobosan yang realistis, namun juga berdampak positif sampai masa panjang berikutnya, bicara dari hati alih-alih polesan wacana artistik dan menggelora meski kosong dari sisi substansi dan kemungkinan realisasinya.
Pemimpin penuh rasa pengabdian, dan itu sudah dibuktikan oleh petahana. Petahana dalam tahap demi tahap, telah menunjukkan hasil dari visi dan misinya membuat DKI Jakarta lebih baik, dalam pilar-pilar kriteria bahwa birokrasi harus melayani, bersih, transparan, dan profesional.

Pemimpin, konsisten dan berani mengambil risiko melawan arus. Bukan demi sebuah singgasana, lalu menafikan kelakuan pengacau tatanan, bahkan bila itu tatanan nilai-nilai spiritual yang harusnya bukan sekadar lafas agamis.

Saya menulis larik “panjang”, karena ini lebih mudah daripada melibatkan diri & terjun dalam aksi kemanusiaan di lapangan. Namun saya warga biasa, bukan paslon yang membuat janji-janji pada pemangku kepentingan (termasuk rakyat), dan dari keringat rakyat itulah asalnya pemimpin digaji dan diamanatkan memikul tanggung jawab penuh tata kelola kenegaraan.

Cukup menarik mendengar pendapat Tompi, musisi dan artis yang ditanya oleh Andy Noya -- host Kick Andy. Tompi mengaku bahwa soal dukung Ahok, itu karena kebetulan dia yang ada di situ. Siapa pun yang akan memimpin Jakarta, sebenarnya standarnya sudah naik. Siapa pun yang memimpin DKI itu nggak masalah. Yang penting itu cara menangnya. “Menanglah dengan bermartabat,” Tompi menandaskan.

Bimbim (Slank) mengungkapkan bahwa sebenarnya Pak Ahok hanya salah satu dari “sejumlah” orang baik dan jujur. Menurut Bimbim, asal ada orang baik, jujur, anti korupsi, bersih – maka dia dan kawan-kawannya akan mendukung. Mau satu jutapun orang baik akan kita dukung. Kita mencari negarwan 1.000 orang. Sampai kini Bimbim dan kawan-kawan melihat hanya sekitar 60-an orang yang masuk kriteria orang baik untuk menjadi pemimpin, termasuk Ahok. Dalam hal ini Bimbim berbicara bukan sebagai musisi yang harus mempertahankan besarnya jumlah fans (
Slankers). Bimbim dkk. mengamati berita, melihat referensi, lalu menetapkan hati mendukung negarawan yang baik, mendorong mereka untuk maju memimpin Indonesia.

Siapa pun pemimpin itu, semoga amanah demi Indonesia lebih baik. Salam Kompasiana.

Referensi: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, dan 8 
Tulisan ini sebelumnya Penulis kirim

Tentang Berita Duka


Catatan tertinggal dan masih berlangsung di benakku, khususnya untuk kehidupan dunia maya 2017. Terpantau tanpa harus berniat mengamati, beberapa teman dan kerabat teman fb pergi untuk selamanya karena menghadap Sang Khalik.


Tentang mereka, ada yang pernah berinteraksi langsung, ada yang tidak -- meskipun aku melihat sekilas kegiatan-kegiatannya dari newsfeed.


Sebagian besar kuamati pergi cepat, dan meninggalkan tulisan yang belum lama dikirim sebagai status fb. Ada yang dua minggu, satu sampai dua bulan paling lama sejak mereka mengirimkan tulisan status mereka, lalu tersiar kabar kepergian mereka selamanya di dunia fana dan maya ini.

Terasa banget betapa hidup di bumi ini sungguh sementara, berlaku untuk siapa saja.


Mengerikan bila sampai status terakhir yang tertulis di fb (ya aku bicara tentang kiriman/postingan) di media sosial, meninggalkan jejak gelap bahkan ditulis oleh pribadi itu sendiri, misalnya menulis atau mengirim berita hoax, hal-hal lain yang sifatnya merusak tata nilai kehidupan secara universal, karangan untuk memfitnah pihak lain, cercaan pedas yang bukan untuk memberi masukan konstruktif terhadap orang lain namun semata karena benci, iri, dengki, egoisme tinggi, niat menipu, dan lain-lain.


Sudahlah, banyak hal yang tidak mampu kuungkapkan dalam kata-kata di sini, namun kurasa orang baik seakan banyak yang pergi "lebih cepat". Ah! maksudku kepergian yang terasa terlalu cepat karena kita yang mengenalnya sulit mempercayai betapa orang-orang itu "baru saja" memberi kita inspirasi dan hal bermanfaat lainnya bagi sesama.


Yang tertinggal sebagai pertanyaan besar bagi diri ini, "Apakah aku sekadar nama (sepanjang usia teridentifikasi dari sosial media dan interaksi random tapi nyata) bila ... "


What have I done to contribute to this real small but unfathomable world and life of mine? Nothing from this world will I bring along with me when the Almighty decides “my time”. However, my little faith may wonder whether even either unnoticable kindness or altruism will do. People see what are claimables, but the Creator sees the hearts.


Sang Pencipta Maha Berkehendak, Maha Kuasa, dan Maha Besar khalik langit, bumi dan seisi alam semesta.

*27-03-2017*


Tulisan ini sebelumnya Penulis kirim

Tuesday, November 15, 2016

[Revisi Draft] Bab I – Akhir Pekan

Novel "Keputusan Cinta"

Aku dilahirkan di hari Minggu siang, bulan Januari 26 tahun lalu. Akta kelahiranku menyebutkan nama lengkapku Nora Putri Satriawati, lahir di Jakarta Selatan, Indonesia. Aku tinggal bersama keluargaku – Papa Satria Bhakti dan Mama Windria Kesti. Tempat tinggalku sejak lahir sampai kini tidak berubah, terletak di Jalan Bacang, Mayestik, Jakarta. Sampai sekarang pohon belimbing di samping rumah, tepatnya di samping kamarku menjadi saksi betapa aku bahagia tinggal bersama keluargaku di sana. Kubisa bilang kalau keluargaku sungguh hangat, penuh cinta dan kasih sayang, dan berkelimpahan. Berlimpah hampir segalanya ha ha ha. 

Kumasih ingat ketika berusia 4 tahun, mulai belajar piano pada guru privatku yang sampai sekarang masih menjadi guru terbaikku. Saat itu adikku, Lely berusia satu tahun. Adik yang menggemaskan, dan sangat latah. Aku sangat menyayanginya. Aku merasa mendapatkan teman dan sasaran iseng. Kucubit Lely saat tidur di pangkuan mama, kubangunkan dia kalau kupikir tidurnya kelamaan, dan kugeret-geret dia karena aku ingin menggendongnya juga, seperti orang dewasa lainnya.

Sejak kecil aku seperti menjadi sampel sekaligus subyek tester. Apa-apa selalu aku duluan yang harus melakukan. Mau makan, papa mengingatkanku untuk cuci tangan, tapi Papa nggak menyuruh Lely juga. Papa malah bercanda dengan Lely. Dan itu sudah biasa.

Hari ini weekend. Aku rencana akan bertemu kawan-kawan lama. Lely kenal sebagian di antaranya, ada Nevy, Aurel, Vindy, dan Rio. “

Hanya empat kawan lama, namun kalau sudah kumpul, serasa bisa menggocang dunia,” begitulah selalu ungkapan sirik Lely kepadaku bila dia nggak kubolehkan ikut nimbrung ngobrol dengan kawan-kawanku.

Kucari-cari jeans yang menjadi pakaian andalanku, dan Lely mencerewetiku saat aku bingung memilih padu padan pakaian untuk acara pagi itu.

“Kalau orangnya memang cakep, ya pakai apa saja akan ok,” cibir Lely.
“Sudah sana mandi dulu!” sergahku padanya. 
“Suka-suka gue-lah!” Lely mulai sengit.

Kalau sudah begitu, aku lebih baik diam. Hanya saja, semakin aku diam, semakin Lely menjadi sewot dan mencari gara-gara. Sebel banget. Sebel pakai banget!

Akhirnya setelah aku siap berangkat, Lely merecoki aku lagi. “Kak, aku nebeng ke perpustakaan Depdikbud ya? Please!”

Aku tahu Lely tahu. Aku tahu Lely sengaja menghambat kesenanganku. Arah perpustakaan sangat berlawanan dengan rute kopdarku dengan teman-teman. Tapi daripada batal karena berantem, aku peringatkan Lely, “Buruan, lima menit harus siap di mobil.”

Di mobil Lely menginterogasiku seperti detektif abal-abal. Satu pertanyaan dijawab, lanjut dengan pertanyaan lain. Aku paling sebel kalau Lely memancingku untuk bercerita tentang Andre. Pedih, tahu! Lely sengaja mengoprek dan mengorek sampai dia puas membuatku melow. Ah, masa aku bisa melow? Dalam hati saja sih, kalau di depan Lely, tentu kuberusaha tampil tabah, kadang malah sedikit sangar. Huh!
Begitulah pagi itu aku memberi sedikit mengancam Lely. 

“Bisa diam, nggak sih, Leltje” Memang aku nggak bisa membalas keusilanmu apa? Mentang-mentang jadi adik, lalu ngandelin aku harus selalu mengalah? Kalau lagi butuh aja, kamu manis seperti premen meleleh. Capeeek deeh!”

Lely terdiam, mungkin dia menyadari kelakuannya yang agak keterlaluan padaku. Atau, mungkin dia hanya menahan diri saja, karena toh aku ini kakaknya. Kakak yang selalu harus siap memakluminya, mengalah, dan yah begitu deh aku sampai males menjadi kakak terus menerus.

“Bye, Kak!” Lely melangkah cepat menuju lobby Perpustakaan Depdikbud.
‘Huh, cuek sekali anak ini. Nggak pakai bilang terima kasih pula,’ batinku.
Sore itu hujan menggericik tak berhenti. Sejak pukul 16.00 wib – petir dan angin kuat menambah dominasi alam, “Hey ini aku Sang Hujan dan kawab-kawan sedang berparade”.
Papa dan Mama sedang ke kondangan rekan bisnis. Hanya ada aku dan Lely. Hujan yang garang menyatukan kami berdua. Petir tak berhenti menggelegar, dhuar dhuar! Biasanya lampu PLN mati karena sengaja dipadamkan dari pusatnya, tapi tidak sore ini. Kami nonton video film terbaru. Nah, hanya saat nonton film begini, aku dan Lely saling kompak. Nggak sengaja, tapi seringnya kami kompak.

“Kak, mau kubuatin Milo dingin?” Lely beranjak buru-buru ke dapur.

Milo dingin, kopi dingin, itu kesukaanku memang. Lely tahu menyenangkan hatiku di saat-saat yang tepat. Agar kami tidak saling mengejek dan meledek. Lely tidak suka hujan, Lely tidak suka tempat basah.

Lalu kami berbincang tentang ending film yang baru kami tonton. Di sini kami mulai berbeda pendapat tentang tokoh favorit. Lely suka Hanna yang cerdas, aku lebih membela Conny yang manja dan lembut. Tapi kapi menikmati bincang ini, sambil menyeruput Milo dingin dan cemilan chees puff kesukaan kami.
Minggu penuh warna, berakhir manis dalam catatan harian yang kurang lebih sama -- nonton The Girls From Ipanema.

Malam harinya, senyap. Ya, senyap. Mama dan papa belum kembali dari kondangan. Oh, hampir lupa, dari kejauhan terdengan suara kodok bersahut-sahutan. Kong-kong-thet-thot-bung! Kong-kong-thet-thot-bung! Kong-kong-thet-thot-bung! 

Di antara itu suara hewan malam entah apa, “Crek-crek-crek-ecrek ecerk ecerek ecrek!” Kubayangkan itu suara semacam serangga yang hidupnya bergerombol. Suaranya memang antara sayup dan tidak. “Arah angin!” kata Lely menegaskan mengapa suaranya kadang terdengar jelas, kadang menghilang, dan seringnya kedengaran pelan dan konstan.

Lely dan aku tenggelam dalam bacaan masing-masing. Aku membaca “Far from the Madding Crowd”, sedangkan Lely membaca “Pillow Talk”-nya Christian Simamora. Sesekali aku mengumpat kecil, “Buku ini ceritanya kelam banget deh!”

“Kakak, jangan sebutin dulu ceritanya. Aku benci spoiler. Kubalas, lho.”

Usiaku dan Lely selisih dua tahun. Kuingat main pikebo dengannya saat aku berusia 3 tahun. Lely yang matanya lebar dan bulat, dengan tatap penuh ingin tahu. Kulitnya lebih putih daripada aku. Rambutnya lebih kriwil daripada aku. Tangisnya lebih kencang daripada aku. Lely yang tidak takut tidur sendiri di pojok kamar yang lampunya dimatikan. Itu dulu!

Sejak mengenal cerita horor dan misteri, film-film goosebump itu, Lely kadangkala tidak berani ke kamar mandi sendirian, khususnya bila tidak ada siapa-siapa selain aku sendiri. Lely sudah bekerja dan mandiri, di kantornya – kata orang-orang. Di rumah, Lely tetap adik kecilku yang ingin selalu menang, lebih diperhatikan, terus bertanya sampai penjawab lelah atau kewalahan, termasuk mama dan papa.

Rumah kami tidak besar-besar amat. Ini rumah bertingkat dua yang dibangun sebelum aku lahir, kata mama. Di depan ada pagar dan semi pagar hidup – serangkaian semak melati, kembang sepatu, dan pohon bugenvil. Sisi kiri adalah tembok batas dengan tetangga, pun sisi kanan. Tempat parkir ada di sisi kiri dan sisi kanan, cukup menampung tida mobil. Namun seringnya hanya ada dua mobil, mobil papa, dan mobilku sendiri. Parkiran satunya buat mobil tamu atau famili yang kadang mengunjungi kami.

Pohon belimbing! Nah, itu pohonku dan Lely. Pohon tempat khayal kami berdua menyatu dalam sebuah cerita berbeda sudut pandang. Lely punya teman Ratu Peri Kendzie, dan aku mengenal lebih akrab dengan Peri Bunga Belimbing. Hahaa, Pohon Belimbing dengan Ratu Peri Kendzi dan Peri Bunga Belimbing yang usia mereka sebaya dengan usia mama dan kami. Pohon keberadaannya lebih tua dibanding rumah kami, menurut mama.

Ikatan seleraku dengan Lely juga terpaterikan dari kehadiran piano besar warna hitam yang terpajang megah di sudut ruang keluarga. Ruang keluarga sendiri berada setelah ruang tamu yang terdesain di bagian terdepan rumah kami. Ruang depan dan ruang keluarga hanya ditandai dengan satu set perlengkapan audio visual Andre, jadi kalau ada tamu keluarga, ruang geraknya lebih leluasa. 

Kadang aku dan Lely bergantian menyuguhkan permainan piano yang kami sukai. Di ruang tamu kami bisa menyaksikan film-film dari tivi kabel berlangganan, atau video koleksi kami.

Rak buku khusus ada di ruang keluarga. Awalnya hanya ada satu rak buku, dan untuk menampung buku masing-masing, ada rak buku Lely dan buatku sendiri. Itu semua perjalanan literasiku dan Lely kecil.

Koleksi video film itu punya kami berdua, atau tepatnya milik keluarga. Ada ratusan video, yang dibeli papa, mama, atau aku dan Lely. Itu setelah aku punya pendapatan sendiri. Koleksinya lengkap, dari film kartun klasik sampai film laga dan horor. Dari film Princess sampai film paling gress – “Ada Apa dengan Cinta jilid 2”, halah!

Oh ya, Milo dingin bikinan adikku menjadi tradisi kami berdua. Milo bikinan Lely mengingatkan kami pada bubble tea “Hop Hop” di Mall dekat rumah, hahaha. Ada banyak kenangan manis ketika kami mendapatkannya sebagai minuman istimewa. Itu ketika papa baru datang setelah beberapa hari tugas luar kota, dan tidak pernah memberitahu kami kapan hari tepatnya dia akan sampai kembali ke rumah. 

Nah suatu hari ketika aku dan Lely sedang belajar menjelang makan malam, ayah datang seperti tanpa langkah kaki. Kami semua dibuat terkejut olehnya. Dan dia mengangsurkan secangkir besar Hop Hop untuk aku dan Lely, hmmmm

Seperti soal selera buku, pun begitu selera memilih varian Hop Hop. Aku dan Lely punya persamaan sekaligus perbedaan selera. Kadang aku mencontek pesanan Lely, dan sebaliknya. Kadang kita sengaja memilih varian berbeda. Lely memilih coklat susu vanilla, dan aku memilih green tea vanilla yang sebenarnya membuat wajahku menyeringai saat meminumnya. Itu membuat Lely tergelak ngakak tak henti-hentinya. Aku juga. Aduh, baru mengingatnya saja aku sudah ingin ngakak lagi haahaa.

Ah! Mengapa aku jadi melantur ke mana-mana ya. Baiklah aku lanjutkan saja membaca bukunya. Andre sesekali datang ke rumah. Dia kenal Lely, meski sangat jarang mengobrol. cowokku sebaya denganku. Dan pacar Lely? Aku bahkan tidak tahu mana cowok yang terdekat dengannya.

***
Hari Minggu
Adikku tersayang, Aku sebal padamu

Aku terbangun sekitar pukul sembilan pagi, sudah siang untuk sebuah Minggu yang entah kenapa kurasakan aneh. Semua sepi. Semua meninggalkanku entah ke mana. Aku galau. Aku benci suasana ini. Semua kosong. Aku menyesal tidak bangun lebih awal. Ke manakah Lely? Papa dan Mama?

Pelan-pelan ingatanku kembali. Hah? Aku gagal memenuhi janjiku sendiri akan jogging pagi. Aku gagal mengalahkan Lely berlari lebih cepat. Dan sekarang aku seperti anak hilang, tak ada yang menemukan. Tak ada tempat bertanya. Huh.

Lalu kusapu pandangku ke sekeliling ruang. Oh! Aku lega sedikit karena sempat merasa tak mengenali ruangan tempat tidurku sendiri. Sambil mengumpulkan nyawa yang terserak dalam mimpi malam yang aneh, aku mengucek-ngucek mata, satu per satu ingatanku tentang mimpi kembali bermain di kepalaku yang agak pusing. Beginilah rupanya bangun kesiangan. Pengin teriak rasanya, sebal, menyesal, sebal.

Satu hal yang membuatku mendadak sedikit terhibur sekarang, aku akan bertemu Si Ganteng Andre. Sedang apakah dia? Oh, kenapa aku nggak periksa telpon cerdasku? Aku seperti tersengat kalajengking, kulempar selimut sekenanya, ouch! Hampir saja. Telpon kesayangan sudah kududuki sejak aku bangun dari tempat tidur. Panas sekali badanku, atau telponnya yang memang panas karena kududuki?

Ada sederet pesan WA dari Andre, dari Lely, dari mama – Ya ampun tidurku seperti kerbau pingsan! Apa ini karena semalam aku begadang menuntaskan baca novel? Atau karena sprei kasur habis diganti dengan yang baru? Ah aku mencari kambing hitam penyebab bangun kesiangan. Sungguh perlu waktu lama untuk mengubah mood ini. 

Tiba-tiba kuingat waktu kecil dulu, saat aku ketiduran sore hari, aku nangis meraung-raung tidak rela mengapa waktu sore yang indah kulewatkan dengan ketiduran tanpa ada yang membangunkanku.
‘Ah, stop being melancholy, Nora!’ kuhardik diri sendiri.

Kuteguk cepat segelas air putih hangat. Anggap saja ini obat galau. Dengan langkah terseret, kumenuju kamar mandi. ‘Oaah segarnya air hangat ini. Mmmmmmmm aku baik-baik saja!’

Nora membuka kulkas. Penuh makanan dan minuman. Nora membuka almari tempat menyimpan segala makanan kering. Di sana ada bolu panggang, sus kering, pop corn, ah – tiada cemilan tanpa Lely. Lely lagi, Lely lagi. Ya, Lely itu menyebalkan tapi bikin kangen. Nora merasa seperti kanak-kanak lagi, berebut makanan kesukaan walau makanan lain tersedia hanya karena Lely selalu ingin memiliki apa yang menjadi jatah Nora. 

Sepuluh tahun lebih masa itu berlalu, namun saat ini semua berkelebatan kembali di benak Nora. Ada bianglala dalam flashback memori itu, ada kegembiraan polos yang dia rindukan sekarang, ada banyak kenangan yang rasanya tak mungkin kembali menjadi nyata semata karena Nora menyadari, dunia kana-kanak memang bukan dunia dewasa. 

Sesaat kemudian, Nora memilih secangkir kopi hangat untuk membuka paginya yang sudah mendekati siang. Semua serba tidak sesuai dengan masanya. Ya, mungkin itulah hidup kekinian. Semua seperti tidak beraturan dan ketidak beraturan itu menjadi yang beraturan seiring dengan tuntutan masa. ‘Apa pula ini?’
Nora teringat kembali saat menjelang pulang dari kantor Jumat yang lalu. Andre menjemputnya di kantor. Teman-temannya bersuitan dan riuh meledekinya.

“Asyik, asyik ada yang dijemput euy,” begitulah teman-teman Nora yang sedikit mirip Lely yang usil bin nyebelin.

Nora sedikit menerawang, lalu menghela napas panjang. Ia mencoba ceria dengan menyeruput kopinya yang mulai menghangat, pelan-pelan – menghirup wangi aroma kopinya, merasakan sensasi lembap uapnya menerpa wajahnya. ‘Mmm not bad at all’.

Nah, sekarang dia merasa lapar. Ini tanda baik. Selera makan itu indikasi kalau seseorang dalam keadaan baik dan sempurna. Setidaknya pencernaan dan metabolisme tubuh berfungsi sempurna. Kriyut-kriyuut begitu bunyi perutnya.
Nora sedikit menikmati rintihan perut, anehnya. 
Lalu, ‘Terima kasih, Tuhan, aku sehat dan baik-baik saja’. Hanya dia dan Tuhan, serta perut tipisnya yang saling mendengar. Nora beranjak ke kamarnya, meraih telpun genggamnya, “Ya Sayang, ini aku. .. “.

Seketika semangatnya melonjak ke permukaan. Matahari hangat memanjakan, begitu perasaan Nora sehabis berbicara dengan Andre yang tengah sibuk dengan kegiatannya sendiri. 
***
Bertemu Andre

Saat ini mood Nora sudah berbeda dengan setengah jam yang lalu. Sekarang semua tampak indah dan hangat. Cepat-cepat diteguknya sisa kopi yang sudah hampir dingin. Cewek itu menyapu sekeliling ruang, seakan mencari sesuatu yang dia sendiri tidak begitu yakin yang ada di benak. Semua yang tampak hanya wajah Andre, wajah yang membuatnya tenang dan gembira, sorot mata yang meyakinkannya sebagai cewek yang dicintai dengan istimewa oleh cowok paling istimewa sedunia. Sejenak Nora melupakan Lely dan orang tuanya. Seluruh jiwanya terbawa oleh kegembiraan akan bertemu dengan pujaan hatinya – Si Macho Mucho, begitu panggilan sayangnya khusus untuk Andre.

Ada misscal, juga pesan WA. Telpon genggamnya tertinggal di ruang makan. Nora tenggelam dalam lamunan bahkan saat dia sedang memilih-milih baju di almarinya. Benar-benar melamun sampai ada miscall dan WA nyaris terlewatkan.
Jadi begitu ya? Cewek itu membatin geli dengan mood melankolis dan lamunannya sendiri.


Sebentar lagi Andre akan datang. Mereka berencana mengunjungi Kota Tua, potret-potret di sana, lalu makan siang di restoran Samudra, menikmati angin laut, memandangi kapal Pinisi, ngobrol berdua saja.

Satu keasyikan dinikmati berdua – Nora dan Andre adalah menikmati angin laut, ngobrol tentang buku yang terakhir dibaca, sedikit tentang politik, sedikit tentang pekerjaan, dan sebagian besar tentang hati. Ya, bicara dari hati ke hati!

***
Di beranda rumahnya, Nora dan Andre berbincang tentang pohon anggrek yang mulai menyembulkan kuncup bunganya yang pertama. Andre sangat mempesona menceritakan sejarah anggrek, dan proses berbunga serta cara pemeliharaannya. Di rumah Andre banyak pohon anggrek. Itu yang membuat Nora semakin mengagumi cowok satu ini. 
Semua pohon anggrek di rumah Andre itu hasil ketekunan Andre merawat, membiakkan, menangkarkan, menyilangkan antar jenisnya. ‘Nggak semata wajah ganteng!’

Kadang untuk hal seperti itu, dalam kekaguman yang tak terucapkan – Nora hanya menggumam dan memandangi cowok di depannya, “Wow!”

Dan tahukah itu mengapa? Nora yang biasanya penuh percaya diri, tegas dan cerdas seakan menjadi kelu bila berhadapan dengan Andre. Ini bukan hanya sekali. Nora merasa tak berkutik menghadapi pujaan hatinya. “Speak your mind, please,” Andre membangunkan lamunannya. 

Memang – Nora mengakui dalam hati, perasaannya membuncah setiap kali dia berada hanya dengan Andre. Kadang terbersit di benak Nora, bagaimana kalau masa indah itu berakhir – ‘Oh, No!’

Tapi saat ini pikiran dan hati cewek itu seluruhnya dipenuhi oleh satu nama, Andre, Andre, dan hanya Andre. Rasanya dia akan siap menerima tantangan dan risiko apa pun demi selalu menjadi bagian penting hidup Sang Matahari.

***

“Let’s go!” Andre menepuk pundak Nora pelan.
 “Tapi, tehnya belum dihabiskan,” Nora mencoba membujuk Andre duduk sedikit lebih lama di beranda. Mumpung anggreknya sedang menyembulkan senyum indahnya.

 Andre tersenyum memperlihatkan selarik giginya yang mirip gigi palsu. Putih, deretannya sangat teratur dan rapi, sempurna. Cowok berpostur tegap dan jangkung ini menarik lengan Nora menuju ke pohon anggrek.

“Ini akan memakan waktu seminggu sebelum bunganya merekah,” Andre menjelaskan setengah berbisik. Nora menelengkan wajahnya. Andre sangat menyadari kalau Nora mendengarkannya sungguh-sungguh.

Nora menghayati setiap tatapan cowok ini seakan ingin membekukan keindahan rasa yang meluapkan kekagumannya. ‘Dan itu membuatku semakin cinta,” keluhnya.
***

Matahari beranjak semakin tinggi. Bagi Nora, itu tidak penting seandainya hari ini tidak sedang bersama Sang Matahari. 

‘Aku ingin semua hari seperti saat ini, oh Tuhan,’ Nora menikmati setiap menit dan detik bersama Andre. Itu sudah.

‘Semua menjadi indah, hatiku sangat bahagia – dan itu karena Sang Matahariku.’
Nora tersenyum dengan mata nyaris tanpa kedip, memandangi, mendengarkan, dan mengagumi seseorang di sampingnya. Andre tersenyum lucu. “I love you, too,” Andre memeragakan tangannya mendekap dadanya sendiri, dan mengulurkan kedua telapak tangannya menyatakan cinta.

Cekrek! Cekrek! Lalu puluhan foto selfie memenuhi memori gawai kedua insan bayangan Sang Matahari – di hari Minggu itu.


***