Showing posts with label inspirasi. Show all posts
Showing posts with label inspirasi. Show all posts

Friday, March 31, 2017

Gerson Poyk, Semangat dan Gagasan Idealismu Tetap Menginspirasi


“Bagiku menolong orang bukan didorong oleh semacam rasa superior atas orang lain. Atau untuk dipuji dan dihormati. Bukan. Di dalam jiwaku ada semacam imperatif kategoris, semacam perintah dari dalam diri untuk berbuat baik kepada orang lain.”

Demikianlah sepenggal kutipan cerpen karya Gerson Poyk – “Jaket Kenangan” yang dimuat di Kompas Minggu, 24 April 2016. Kini Sang Sastrawan baru saja menghadap Sang Khalik, tepatnya pada hari ini, Jumat – 24 Februari 2017 di usianya menjelang 86 tahun.

Penulis mengetahui berita duka ini dari facebook putrinya – Fanny Jonathan Poyk yang juga seorang penulis senior yang dihormati.

Dilahirkan di Namodele, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, 16 Juni 1931, Gerson Poyk adalah tamatan SGA Kristen Surabaya pada tahun 1956. Pernah menjadi guru SMP dan SGA di Ternate (1956-1958) dan Bima -- Sumbawa (1958). Almarhum sempat menekuni bidang jurnalistik sebagai wartawan harian Sinar Harapan (1962-1970).

Mengingat kesederhanaan kehidupannya selama ini, khususnya dalam keterbatasan ekonomi seorang sastrawan idealis, mungkin tidak banyak yang tahu bahwa beliau adalah penerima beasiswa International Writing Program di University of Iowa, Iowa, yang beliau ikuti dari tahun 1970-1971. Pengalaman internasional lainnya yaitu menjadi peserta seminar sastra di India pada tahun 1982.

Pencapaian Lain

Selain sudah menerbitkan puluhan buku dan menulis cerpen, Gerson Poyk juga meraih banyak penghargaan, antara lain: Hadiah Adinegoro (tahun 1985 dan 1986), hadiah sastra ASEAN (1989), SEA Write Award, dan Lifetime Achievement Award dari harian Kompas.

Cerpen Gerson Poyk berjudul “Mutiara di Tengah Sawah” mendapat Hadiah Hiburan Majalah Sastra (tahun 1961), cerpen “Oleng-Kemoleng” mendapat pujian dari redaksi majalah Horison sebagai cerpen yang dimuat di majalah itu pada tahun 1968.

Karya-karyanya antara lain: Hari-hari Pertama (1968), Sang Guru (1971), Cumbuan Sabana (1979), Giring-giring (1982), Matias Akankari (1975), Oleng-kemoleng & Surat-surat Cinta Rajagukguk (1975), Nostalgia Nusa Tenggara (1976), Jerat (1978), dan Di Bawah Matahari Bali (1982).

Semangat berkarya Gerson Poyk luar biasa, terbukti dengan kehadirannya dalam bedah buku kumpulan puisi karyanya sendiri “Dari Rote ke Iowa”. Itu terjadi pada sebuah acara bedah buku dan pembacaan puisi berjudul “Berpuisi di Rumah Rakyat”, 6 Oktober 2016 di Gedung MPR di Senayan, Jakarta. Kumpulan puisi ini tercatat merupakan kompilasi karya Gerson Poyk yang dibuat sejak tahun 1950-an, menyajikan semacam kisah perjalanan kehidupannya selama menggeluti dunia jurnalistik maupun penulisan karya sastra.

Editor Kompas Putu Fajar Arcana dalam sebuah wawancaranya sekitar 4 tahun lalu, mengutip ungkapan Sang Sastrawan ini demikian, “Menulis tentu bukan sekadar ingin dimuat media dan kemudian hidup. Saya ingin Indonesia ini sadar bahwa kita punya kebudayaan begitu kaya. Makanya sejak dulu saya ingin ada desa budaya-desa budaya di seluruh Tanah Air. Masa depan Indonesia itu ada di desa. Saya yakin kalau desa itu hidup, separuh dari penduduk Jakarta ini pulang kampung.”

Dunia sastra Indonesia berduka cita. Penulis sampaikan turut berduka cita sedalam-dalamnya kepada keluarga Gerson Poyk, termasuk mBak Fanny Jonathan putri yang selama ini sangat dekat dengan keseharian beliau, mewarisi semangat berkarja penuh idealisme tinggi dari Sang Ayahanda. Adios, Rest in Peace Bapak Gerson Poyk. Semoga arwahnya diterima di tempat terbaik di sisi-Nya. |@Indria Salim-24.02.2017

Referensi:

1

2

3

4

Tulisan ini sebelumnya dikirim Penulis di Kompasiana

Mengubah Rasa Terpuruk Menjadi Semangat Membara


Judulnya bombastis ya? Sengaja, sih, karena ini dimaksudkan untuk mendongkrak kegalauan. Kegalauan siapa? Ya siapa saja yang merasa galau. Manusia mana yang sepanjang hidupnya tidak pernah sekalipun mengalami kegalauan, putus asa, pesimis akut maupun dadakan, dan seabreg suasana emosi maupun muatan pikiran yang sifatnya negatif lainnya.

Contoh pernyataan di atas itu apa? Misalnya nih, seorang karyawan yang rajin dan sangat berdedikasi terhadap tugas dan tanggungjawabnya di kantor, mendadak merasa terpukul karena tanpa sengaja melakukan kesalahan yang membuatnya kehilangan muka di lingkungan kantornya. Sudah begitu, hampir tidak ada teman-teman yang tampak memberinya dukungan yang membangkitkan semangatnya. Yang ada malah orang ramai-ramai, terus terang, atau bisik-bisik merisak (red: melakukan bully). Tentu itu hak orang yang seringnya di luar kontrol. Kalau sudah begitu, penting bagi karyawan tersebut untuk melakukan instrospeksi, namun juga usaha mengambil pelajaran sebagai hal yang bermanfaat buat perbaikan dan kepercayaan diri selanjutnya.

Contoh lain, seorang mahasiswa ketahuan melakukan plagiat. Makalah yang diserahkan pada dosen, dianggap terlalu “sempurna”. Di depan kelas, dia dipanggil dosen untuk berbicara setelah jam kuliah. Semua temannya pada kepo. Ternyata, dosennya mencurigai bahwa makalah Si mahasiswa itu hasil plagiasi. Andaikata itu terbukt, kebayang kan bagaimana malunya? Nah, intinya – orang lalu bisa melupakan peristiwa itu. Namun belum tentu orang yang sempat kehilangan muka itu dapat segera melupakan begitu saja insiden tersebut. Memang itu tergantung pada pribadi masing-masing orang. Ada yang mudah move on, ada yang perlu waktu pemulihan.

Cukuplah contohnya. Kita fokus pada solusinya, deh. Kok kita? Lho kan aku dan para pembaca? Tulisan ini memang tidak hanya ditujukan kepada pembaca, penulisnya pun tidak terkecuali.

Sebagian orang membayangkan hidup penuh keberhasilan, sebagian lainnya langsung melakukan usaha menuju keberhasilan. Mari kita renungkan mengapa kedua kelompok itu berbeda. Para pemimpi tanpa aksi, cenderung menjadikan rintangan sebagai alasan “berhenti melangkah.” Sebaliknya, para peraih mimpi tidak mudah menyerah pada hal-hal yang membuatnya berhenti, atau menghentikan langkahnya untuk maju, dan mengalahkan rintangan.

Apakah Kendala dan Rintangan Itu? Kendala atau rintangan adalah hal-hal menakutkan yang kita lihat, dengar, atau bayangkan. Hidup bukan hidup bila tanpa rintangan atau masalah. Pertanyaannya, bagaimana kita menghadapinya agar tetap hidup, tidak sekadar bertahan namun malah melompat jauh dan tinggi. Tentu keterampilan melalui rintangan, atau mengatasi kendala itu tidak serta merta dikuasai oleh setiap orang. Ada yang memang lebih tabah, ada juga yang perlu proses panjang dalam memahami soal ini. Mungkin salah satu cara agar orang bisa lebih tangguh adalah belajar realistis, namun sekaligus gigih. Realistis itu mencakup sikap penerimaan bahwa diri kita tidak kebal dari kesalahan, dan risikonya.

Tetap mengingat dan fokus pada tujuan:
Ketangguhan terkait dengan motivasi diri. Motivasi diri membuat kita fokus pada tujuan, juga dalam menjalani kehidupan ini. Itu.

Kita adalah pengukir karya kita sendiri
Dalam memikul tanggung jawab, meraih cita-cita atau tujuan hidup – orang lain bisa menjadi mitra perjalanan, mentor, Guru, pendukung, atau apa saja. Namun perlu diingat bahwa pada akhirnya diri kita sendiri yang menjalaninya. Maka, diri ini harus dikuatkan dengan keyakinan bahwa kalau bukan diri sendiri yang menjaga api semangat dan membuat langkah tindakan, lalu siapa lagi?

Tujuan hidup dan misinya:
Bila ingin meraih mimpi menjadi nyata, hal pertama yang harus kita lakukan adalah bangun dari mimpi. Hadapi realita, perhitungkan potensi yang mungkin, antisipasi kendala agar kita siap mengatasinya, dan
go!

Selalu bersikap dan bertindak seakan kita mengenakan mahkota tersembunyi – Ibelajar menjadi sang pemenang, bertindak dengan mental juara apapun hasil akhirnya. Ini bukan tentang capaian saja, namun lebih pada pembentukan sikap mental.

Buang pikiran yang mengatakan, “Kamu tidak mampu”, dan genggam pikiran “Aku bisa”. Rasanya poin ini sudah jelas, kan ya? Dengan penanaman konsep di benak bahwa “Aku bisa”, tanpa kita sadari hal ini akan mengarahkan kita pada pemikiran yang berfokus pada hal-hal yang mendorong tindakan menuju pencapaian. Satu tahap, lanjut dengan tahap berikutnya, dan seterusnya sampai garis akhir – pencapaian tujuan.

Kegagalan sebenarnya dapat merupakan batu pijakan menuju keberhasilan.

Siapa yang belum pernah mendengar nama Walt Disney? Ia adalah produser, sutradara dan animator film ternama dari Amerika Serikat, yang berpengaruh di bidang hiburan di abad 20. Sebagai tokoh pendiri Walt Disney Productions, Disney menjadi salah satu produser film paling terkenal di dunia. seorang penerbit film tersohor di dunia. Dia pernah mendapatkan penolakan ribuan kali dari editor koran besar, yang menilai bahwa dia tidak berbakat.

Ada Thomas Alva Edison, Si Penemu listrik yang terus berusaha meskipun sempat gagal 10,000 kali. Juga Presiden Amerika Serikat ke-16, Abraham Lincoln. Dalam biografinya disebutkan bahwa dia mengalami kegagalan bisnis pada usia 21, lalu kesedihan menimpanya karena kekasihnya meninggal pada usia 26, ditambah lagi dia sempat terkena sindrom kesehatan serius.

Mereka itu adalah contoh-contoh menonjol dari orang-orang yang meraih keberhasilan setelah mengalami perjuangan keras dan mengatasinya dalam ketangguhan mental. Maka banyak mengamati, mempelajari, atau membaca perjalanan hidup orang-orang sukses dan orang “besar” itu perlu sebagai asupan positif yang penting buat otak dan mental kita. Ini salah satu cara untuk mengubah pikiran negatif menjadi sebaliknya.

Kesabaran, ketekunan, keuletan, kerja keras akan menjadi perpaduan tak terkalahkan menuju keberhasilan. Lakukan apa yang bisa kita lakukan sekarang. Jangan menunggu. Tidak akan pernah ada waktu yang tepat. Mulai rencanakan apa yang Anda ingin kerjakan untuk menuju cita-cita, dan langsung mulai lakukan.

Siap nggak siap, realisasikan rencana tindakan ini. Mulai dengan pikiran positif, tindakan nyata, ambil tanggung jawab dengan tulus ikhlas, dan bila kemauan Anda cukup kuat, maka kekuatan diri akan muncul dengan sendirinya. Aku melakukan tindakan nyata, maka aku ada. Yang terakhir ini sebenarnya adalah mengadopsi sebuah ungkapan terkenal oleh filsuf Perancis bernama Descartes, “Cogito ergo sum” – yang artinya "aku berpikir maka aku ada".

Semangat! Nikmati video ini dulu deh. |2017-03-21| @IndriaSalim

*Tulisan ini juga dimaksudkan untuk menyemangati Penulis sendiri. Salam Kompasiana*




Artikel ini adalah arsip kiriman Penulis di Blog Kompasiana Ini

Saturday, August 29, 2015

Tantangan Menghitung Berkat

Counting the Blessings Challenge, "Tantangan Menghitung Berkat" atau"Tantangan Pengungkapan Rasa Syukur" saya terima dari seorang sahabat di facebook. Kebetulan komunikasi saya dengannya lebih sering dalam Bahasa Inggris, meskipun ia orang Indonesia. Bukan apa, ini hanya soal kenyamanan dan kebiasaan kami berdua, katakanlah --- sudah tradisi sejak lama di antara kami berdua. Jadi, sambil melancarkan ketrampilan berbahasa Inggris, maka saya menuliskan beberapa hal yang membuat saya bersyukur selama satu pekan yang sudah berlangsung, termasuk hari ini.

Saya membaginya di Kompasiana, dengan harapan bahwa ini bisa memberi setitik inspirasi buat para pembaca yang baik budi dan tidak sombong (mungkin juga rajin menabung, seperti si Amri, yang saya kenal dalam nyanyian saat SD. Amri yang tidak pernah membolos ke sekolah). Ah, ini percobaan saya melucu sedikit.

Nah, di bawah ini ungkapan rasa syukur seperti yang saya jelaskan sebelumnya. Bagaimana pun, kita perlu menyadari bahwa sebenarnya hidup itu relatif singkat. Perjalanan hidup ini, bagi kebanyakan orang tentu tidak selalu mulus seperti jalan tol terbaik di dunia. Ada yang menghayatinya penuh perjuangan dan doa. Ada pula yang mengeluhkannya karena merasa diri sangat kurang beruntung dibanding dengan orang-orang di sekitarnya.

Toh semua itu pilihan. Maka akan sangat indah bila kita melaluinya dengan hal berguna, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain, dalam kapasitas yang kita miliki masing-masing. Tentu, akan sangat sempurna kalau kita bisa menikmatinya sesuai harapan dan dalam kehendak-Nya. Inilah sebagian makna kehidupan yang sebenarnya adalah berasal dari Sang Khalik Langit dan Bumi.

Here is my today's listing ‪#‎Day 1 up to 7 of the "counting the blessings challenge".
Day 1 up to Day 3

I am grateful for having plenty of drinkable water. I read from recent news about the drought and scarcity of clean water and drinking water in some places in my country (Depok, Pati, Klaten).
I am grateful as I don't have to go hungry. I eat what I am craving for, and what is good for my health, too.
I am grateful for the love, support, kindness and all the fun that my family and friends offer and I get to offer them. I specially am happy for having had some deep, wonderful talks with the sunshine of my life.

Day 4 up to day 7

I am grateful for having got back to my routines, after having acute diarrhea and its various forms of unexpected effects.
I am grateful for my family who took care of me timely as I once got fainted in my "diarrhea effect".
I am grateful to have met a good, and sincere doctor who professionally prescribed me the effective medicines and advice.
I am grateful for having a new notebook (Lenovo Thinkpad E440 i5), to replace my old, but amazing and dedicated Lenovo N3100 that I have used it since 2006!
I am positive to have my old notebook totally fixed, including all the data I have gathered within the period of the last few months.
I am honestly somewhat overwhelmed by things to attend. All I have to do is to set a priority list, hopefully realistic and manageable.
Last but not least, I can't be more grateful for having such great blessings by the Lord, and that is especially after having talked with my beloved 79-year old, healthy Mom.
I'll have never been grateful enough to the Almighty Lord, who does never-ending miracles in my life.

*This is to conclude the "Counting the Blessings Challenge" for now. However, I am fully well aware of God's heavenly blessings, which are beyond words that I could express, at least publicly.

For those who wish to voluntarily respond to the CHALLENGE, you may mention me, as your "participation's nominator"*


Ayo siapa mau menjawab tantangan ini?

*) Tulisan ini dimaksudkan sebagai arsip artikel Penulis, yang sebelumnya diunggah di blog Kompasiana , yang bisa dilihat di Sini. |Twitter: @IndriaSalim

Motivasiku Membuatku Mampu

"Change is never a matter of ability; it's always a matter of motivation."

(Anthony Robbins, motivator)


Suatu saat, saya dapat panggilan test wawancara di sebuah organisasi regional di kawasan ASEAN. Saya kaget, karena saya lupa kalau pernah mengirim surat lamaran kerja ke organisasi tersebut. Meskipun begitu, saya senang karena bekerja di sebuah organisasi LSM kedengarannya keren. Waktu itu saya bekerja di sebuah lembaga pendidikan non-formal, dan saya menjadi  pengajar paruh waktu, sekaligus bagian dari staff manajemen (Direksi). Kebetulan, saya merasa itu 'hanya' pekerjaan sela, sambil menunggu peluang bisa bekerja di lembaga resmi dengan cakupan bidang tugas yang lebih luas.

Nah, singkat cerita saya lulus test di kantor LSM regional itu. Saya sangat senang karena saya berhasil melewati tahapan test dan bersaing dengan sesama peserta yang tampak berlatar belakang pendidikan dan berpenampilan keren. Kesan ini saya tangkap dari tumpukan buku-buku tebal berbahasa asing yang ditenteng peserta, dan obrolan mereka di lobby kantor itu, menjelang test diadakan.

Ada puluhan peserta test yang sudah melewati seleksi pemanggilan, dan hanya ada satu posisi. Zaman sekarang malah lebih parah pastinya, satu posisi menjadi rebutan ratusan atau ribuan orang.

Begitu surat pemberitahuan kapan saya harus mulai ngantor itu datang, saya malah gugup dan mendadak tidak percaya diri. Banyak kekhawatiran berkecamuk di benak. Terbayang kesulitan terkait transportasinya, mengingat lokasi kantor yang sangat jauh dari tempat tinggal, bagaimana dengan busananya - mengingat isi lemari yang minim pakaian kantoran yang keren, lalu bagaimana dengan suasana pergaulan antar pegawainya, dan sebagainya. Dan yang utama dan terutama adalah apakah saya akan mampu memahami dan menjalankan tugas sesuai posisi itu, karena sejujurnya itu hal yang sama sekali baru bagi saya. Belum lagi kecemasan tentang tuntutan pekerjaan yang memerlukan saya harus berhadapan dengan banyak orang secara langsung, baik tertulis maupun tatap muka.

Saya bukanlah orang yang cuek, atau suka tampil di depan. Kalau disuruh memilih, saya lebih baik berada di belakang layar, atau di pojok ruang, bekerja sendirian dan menikmati ketenangan dan kenyamanan berkonsentrasi total. Itu bayangan 'dream job' yang ada ketika itu.

Memang, sebagai pengajar & staff Direksi saya tampil juga, namun dalam hal pekerjaan baru itu, saya tahu sangat berbeda sifatnya. Sebagai pengajar, ada sedikit 'otoritas' yang saya miliki dan itu cukup mengurangi kegamangan tampil di depan orang banyak. Itu saja.

Agar siap pindah pekerjaan tanpa banyak cemas, saya menemui seorang sahabat lama yang juga teman se-alumni di kampus, panggil saja namanya Carla. Carla sangat mengenal saya, karenanya dia ikut senang mengetahui kalau saya mendapat pekerjaan yang lebih 'serius' karena menurutnya, hal itu akan membuka cakrawala pengalaman yang lebih luas lagi.

Satu ungkapan Carla mencambuk dan membesarkan hati saya untuk maju dan memulai pekerjaan baru dengan percaya diri, "Fokus dan lakukan yang terbaik untuk tugasmu, maka dengan sendirinya kau akan mampu menempati posisimu."

Sejak itu saya tidak pernah melupakan 'kalimat sakti' itu. Sampai sekarang saya berterima kasih kepada Carla, karena ungkapan bijaknya yang sederhana menjadi tips manjur, dan berlaku untuk banyak hal dalam kehidupan saya. ~ @IndriaSalim
*) Tulisan ini dimaksudkan sebagai arsip artikel Penulis, yang sebelumnya diunggah di blog Kompasiana , yang bisa dilihat di Sini . |Twitter: @IndriaSalim

Ocehan Garing

Ini tentang asyiknya bersantai dengan anak-anak yang lagi liburan di rumah. Bersahut-sahutan pantun dengan anak-anak yang lagi belajar bahasa Indonesia. Lucu mendengarkan mereka memahami dan berlatih teori komposisi pantun dengan 'sampiran' dsb.

Aku nimbrung ngasal, lalu anak-anak tergelak menertawaiku. Kadang mereka mengerutkan alis berusaha memahami, atau menganalisis sesuai logika mereka.

Anak-anak memang polos, dan itu sebabnya, mendidik mereka dengan contoh itu mutlak. Petatah petitih gaya ibu atau bapak bijak, tidak akan ngefek kalau kita sendiri tidak melakukan sesuai nasihat kita pada mereka.
Itu sebabnya, jangan pernah melakukan kebohongan, atau bertindak yang tidak sesuai dengan yang kita nasihatkan pada anak-anak. Kalau suatu ketika anak-anak memergoki orang tua (baca: dewasa) melakukan hal tidak bijaksana, mereka akan langsung meradang dan protes.

Anak-anak  memercayai kita, Kalau yang kita katakan di luar pemahaman dan bayangan, mereka paling akan berkata, "Masa' sih?", "Itu beneran?", "Lalu kenapa bisa begitu?" dan banyak ungkapan pertanyaan dan pernyataan kritis lainnya.

Makanya, nggak kebayang gimana rasanya jadi anak yang orang tuanya koruptor, pelaku pornografi, atau penyelundup narkoba. Hadeuh, kasihan anak-anak itu terlahir dengan pikiran murni. Mereka pasti bertanya-tanya bagaimana orang tua yang mereka patuhi nasihat bijaknya, malah melakukan hal yang sebaliknya.

Lha, ini ceritanya aku lagi pengin nulis yang lucu-lucu, tapi kok hasilnya malah seperti ocehan garing, ya? Garing memang!

Pernah suatu hari kami bepergian. Waktu itu lalu lintas tidak terlalu ramai, namun jalur yang kami lewati berjalan lambat. Karena kami tidak mau terlambat hadir di acara konser musik, Ayah anak-anak mencari celah mendahului mobil di depan kami. Nah, ternyata jalan di depan kami kosong tuh.
Mendadak anak-anak berteriak, "Hei itu, Om di mobil sebelah kok menyupir sambil mengetik di 'tablet' sih? Itu bisa mencelakai diri sendiri dan pengguna jalan lainnya, kan? Iiih nyebelin banget sih!"

Begitulah anak-anak. Mereka cenderung spontan, tak bisa kompromi, dan kadang mengatakan kebenaran yang bikin orang dewasa sulit membantahnya. Ini berlaku khususnya kalau ada hal yang nggak beres tertangkap oleh mereka.

Kembali ke topik. Berbalas pantun dengan anak-anak. Okelah kalau begitu, kucoba deh menulis ulang pantun anak-anak itu.

Burung kepodang kuning bulunya, sperti bayi mungil bening matanya.
Bangun siang nyesel rasanya, lupa taruh pensil makin stress jadinya.


Tak mau kalah, kubuat pantun juga.

Bubur ayam lezat rasanya, kalau kau tak suka kuhabiskan saja,
Masih muda belajar saja, sudah tua bakal jadi kaya.

Anak-anak tertawa, "Haahaa .. aku belum siap, lagi deh lagi."

Sambil mikir, aku berlagak sok penyair. "Hmm, apa ya?" Lalu kubikin lagi pantun ini.
Jus jambu sangat bergizi, roti keju apalagi.
Sudah capek aku permisi, badan gerah pengin mandi." (maklum hari ini cuaca panas)


Anak-anak menertawaiku, "Aah pantunnya gak jauh-jauh dari makanan melulu! Ketahuan tukang makan!"

Aku: "Ya, bagaimana ya kita kan perlu makan. Biar tubuh sehat dan berisi," jawabku ngasal.

Anak-anak terbahak, "Haahaa .. lho kan sudah  gendut?!"

Waduh!

"Ya sudah, sekali lagi ya, habis itu giliran kalian." 
Maka muncullah pantun ini.
Bunga mawar kuning indah sekali, nangkring di pagar rumah tetangga,

Belajar bahasa asing, sulit sekali, sampai nungging-nungging ' ku dibuatnya.

"Apa tuh 'nungging-nungging?"


Ternyata mereka belum mengenal kata ini. 'Jangan-jangan ini bukan bahasa Indonesia, ya?' batinku.

Begitulah sekilas catatan siang tadi. Ah aku jadi lupa, apa ya pantun versi anak-anak  tadi?*) Tulisan ini dimaksudkan sebagai arsip artikel Penulis, yang sebelumnya diunggah di blog Kompasiana, yang bisa dilihat di *) Tulisan ini dimaksudkan sebagai arsip artikel Penulis, yang sebelumnya diunggah di blog Kompasiana, yang bisa dilihat di Sini  .  |Twitter: @IndriaSalim

Zombie Menyeringai dan Kepedihan Abadi

Hai gerombolan zombie yang baru bangkit dari kegelapan lapisan terbawah kerak bumi, silakan bermegah diri, merasa gagah, merasa cantik dan anggun, merasa jenius, dan berkasta setingkat Dewa Zeus, atau Ratu Ular Beludak --- nikmatilah racun mulutmu yang sedang berbuih-buih, rentangkan cakar kuku busukmu menebar virus kepedihan menyaksikan seorang makhluk kerempeng, berpeluh dan berdarah-darah mencoba menerabas barikade pasukan iblismu.

Aku tidak gentar. Aku dan kawananku --- manusia biasa yang hanya punya secuil nalar, sepotong kewarasan, dan sebiji harapan untuk tetap berjalan maju, menerobos barikade kalian, menuju titik cahaya pembebasan --- agar rakyat Indonesia sejati --- makmur, berbudaya, dan adil merata.

Indonesia tumpah darah kami, jangan kalian mengaku orang Indonesia, kalau yang kalian perbuat hanya membuat bising anak-anak bayi papa, mengaduk hati pelacur haus dunia, dan memeras belas kasihan penunggang hewan bertanduk, bertaring, tak bermata.

Kulihat ulah kalian semua, kuingat tulisan buruk dan laknat yang kau torehkan pada jiwa-jiwa kelana papa, miskin harta, tak punya hati, tak bernyali, namun mulut menganga -- mendesiskan kalimat kematian jiwa, kematian dalam tampilan raga yang bergentayangan, meraba dalam kegelapan. Kalian zombie, kami akan perangi dengan nurani.

Kalian bau wangi, kadang dan sesekali karena kalian menyaru -- bertopeng -- berkedok -- dan kadang, tak bisa sembunyikan diri sebagai zombie aneka rupa.

Dunia bukan milik kalian, bila itu kemuliaan semu.
Dunia bukan dalam genggaman, seperti sangkaan kalian
Dunia adalah ciptaan-Nya
Sang Khalik yang punya kehendak Maha.

Zombie, kau bisa menyeringai ... kali ini
Dan kupercaya, kalian bahkan tak bisa mati
Kerna kalian harus menanggung nyeri
Abadi.
@IndriaSalim


*) Tulisan ini dimaksudkan sebagai arsip artikel Penulis, yang sebelumnya diunggah di blog Kompasiana , yang bisa dilihat di SINI .


Kisah Dua Menit

Siang yang cukup menyengat kulit. Seorang kurir mematikan mesin motornya, mengucapkan "permisi" dan menyerahkan surat buatku.
Dia bilang, "Kalau pas nggak ada yang di rumah, saya minta ijin Ibu untuk menyisipkan surat dari pintu ini ya? *dia menunjuk pada kasa pintu luar yang berlubang*

"Oh ya, itu lebih baik daripada di teras (ruang yang lebih terbuka dan mengarah ke jalan). Terima kasih, Mas," ucapku tulus.


Kurir berbadan jangkung dan tipis itu tersenyum dan membungkuk hormat, berpamitan dengan tergesa. Tidak semua kurir seperti dirinya, bersuara lirih, sedikit serak, dan dalam. Aku nggak sempat menawarinya segelas aqua dingin. Sebagai gantinya, kudoakan petugas itu agar hidupnya menjadi berkat, dan membawa pada kesejahteraan dan kecukupannya bersama keluarga, entah kapan.
Ya Tuhan, kurir ini mengingatkanku pada mereka yang punya banyak kelebihan dan fasilitas, namun mereka hambur-hamburkan demi egoisme pribadi/ kelompok, atau demi memuaskan kehausan mereka akan kekuasaan dunia yang semaksimal mungkin.


Semoga rakyat yang bekerja keras dan dengan tulus ikhlas akan mendapatkan "upah", yang lebih memadai dari Sang Maha Kuasa --- yang jauh lebih hebat dari segala penguasa di dunia ini.



*) Tulisan ini dimaksudkan sebagai arsip artikel Penulis, yang sebelumnya diunggah di blog Kompasiana , yang bisa dilihat di SINI . 

Sunday, March 16, 2014

Ada Kisah Lebay, Ada Kisah Inspiratif

Siang ini saya melihat seorang teman membagi kisah tentang upaya seorang polisi muda, demi pengobatan anaknya yang terancam gangguan saraf serius, tak segan menjadi tukang  bakso di saat purna tugas.

Singkat cerita, Brigadir Wawan Mulya yang bertugas di Polsek Tarogong Garut, Jawa Barat dan isterinya, bergantian dagang bakso di warung di depan rumahnya. Wawan berjualan di sore hari selepas jam kantor, untuk menggantikan istrinya Lala (30) yang berjualan baso sejak pagi pukul 09.00 WIB. Ini demi pengobatan Rema (9 tahun), anak mereka yang mengidap gangguan kelenjar tiroid sehingga tak berfungsi. Gangguan ini mempengaruhi pertumbuhan tulang dan syaraf anak tercinta keluarga polisi ini.

Kisah Pak Polisi ini kalau benar adanya, bikin yang baca terharu biru. Tetapi saya percaya, masih banyak orang Indonesia (dan di belahan dunia mana pun) yang jujur, tulus, dan lurus.

Semoga kebaikan akan kembali pada diri pemiliknya. Entah dengan cara apa pun, kebaikan akan terus bergema.

Yang jahat itu adalah mereka yang punya akses dan kesempatan membantu, menolong orang lain yang membutuhkan, namun memanfaatkan hal ini dengan cara manipulatif. Misalnya, mengiming-imingi orang menjadi pengedar narkoba, melibatkan orang ikut korupsi, memprovokasi orang agar ikut cara kotor untuk kepentingan pribadi.

Saya selalu dalam hati mendoakan orang-orang baik dan bersahaja yang saya temui di taksi, di angkot, di jalan, di jembatan penyeberangan, di super market, di pasar dan terminal .. dan saat saya mendoakan mereka, pelupuk mata ini jadi menghangat dan membasah ..

Orang tulus, jujur, bersahaja, dan tangguh selalu berhasil menyentuh hati yang nyaris makin skeptis dengan banyaknya orang egois yang juga kulihat d tempat-tempat yang sama tadi.

#Monolog: Hidupku adalah perjuangan, tanganku kotor penuh lumpur dan abu, pekerjaanku membuat tidur kadang jadi tak beraturan. Namun, aku mengalami kemerdekaan pribadi. Merdeka karena itu semua pilihanku. Mengejar mimpi, menguatkan diri dan memantapkan janji pribadi .. untuk apa? Agar aku tidak mati sia-sia. Yang terakhir ini adalah doaku, juga doa buat orang-orang yang kucinta.

Saya ingin hidup cara sederhana. Sederhana, tidak semudah mengeja sembilan ketukan jari menuliskannya. Setidaknya, saya punya asa.

#selintas sehela napas -- Minggu, 16 Maret 2014~
Oleh penulis yang sama (saya sendiri), tulisan ini saya unggah di Kompasiana.com.

(Terinspirasi tulisan di “Koran Fesbuk”)