Showing posts with label humaniora. Show all posts
Showing posts with label humaniora. Show all posts

Friday, March 31, 2017

Gerson Poyk, Semangat dan Gagasan Idealismu Tetap Menginspirasi


Bagiku menolong orang bukan didorong oleh semacam rasa superior atas orang lain. Atau untuk dipuji dan dihormati. Bukan. Di dalam jiwaku ada semacam imperatif kategoris, semacam perintah dari dalam diri untuk berbuat baik kepada orang lain.”

Demikianlah sepenggal kutipan cerpen karya Gerson Poyk – “Jaket Kenangan” yang dimuat di Kompas Minggu, 24 April 2016. Kini Sang Sastrawan baru saja menghadap Sang Khalik, tepatnya pada hari ini, Jumat – 24 Februari 2017 di usianya menjelang 86 tahun.

Penulis mengetahui berita duka ini dari facebook putrinya – Fanny Jonathan Poyk yang juga seorang penulis senior yang dihormati.

Dilahirkan di Namodele, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, 16 Juni 1931, Gerson Poyk adalah tamatan SGA Kristen Surabaya pada tahun 1956. Pernah menjadi guru SMP dan SGA di Ternate (1956-1958) dan Bima -- Sumbawa (1958). Almarhum sempat menekuni bidang jurnalistik sebagai wartawan harian Sinar Harapan (1962-1970).

Mengingat kesederhanaan kehidupannya selama ini, khususnya dalam keterbatasan ekonomi seorang sastrawan idealis, mungkin tidak banyak yang tahu bahwa beliau adalah penerima beasiswa International Writing Program di University of Iowa, Iowa, yang beliau ikuti dari tahun 1970-1971. Pengalaman internasional lainnya yaitu menjadi peserta seminar sastra di India pada tahun 1982.

Pencapaian Lain

Selain sudah menerbitkan puluhan buku dan menulis cerpen, Gerson Poyk juga meraih banyak penghargaan, antara lain: Hadiah Adinegoro (tahun 1985 dan 1986), hadiah sastra ASEAN (1989), SEA Write Award, dan Lifetime Achievement Award dari harian Kompas.

Cerpen Gerson Poyk berjudul “Mutiara di Tengah Sawah” mendapat Hadiah Hiburan Majalah Sastra (tahun 1961), cerpen “Oleng-Kemoleng” mendapat pujian dari redaksi majalah Horison sebagai cerpen yang dimuat di majalah itu pada tahun 1968.

Karya-karyanya antara lain: Hari-hari Pertama (1968), Sang Guru (1971), Cumbuan Sabana (1979), Giring-giring (1982), Matias Akankari (1975), Oleng-kemoleng & Surat-surat Cinta Rajagukguk (1975), Nostalgia Nusa Tenggara (1976), Jerat (1978), dan Di Bawah Matahari Bali (1982).

Semangat berkarya Gerson Poyk luar biasa, terbukti dengan kehadirannya dalam bedah buku kumpulan puisi karyanya sendiri “Dari Rote ke Iowa”. Itu terjadi pada sebuah acara bedah buku dan pembacaan puisi berjudul “Berpuisi di Rumah Rakyat”, 6 Oktober 2016 di Gedung MPR di Senayan, Jakarta. Kumpulan puisi ini tercatat merupakan kompilasi karya Gerson Poyk yang dibuat sejak tahun 1950-an, menyajikan semacam kisah perjalanan kehidupannya selama menggeluti dunia jurnalistik maupun penulisan karya sastra.

Editor Kompas Putu Fajar Arcana dalam sebuah wawancaranya sekitar 4 tahun lalu, mengutip ungkapan Sang Sastrawan ini demikian, “Menulis tentu bukan sekadar ingin dimuat media dan kemudian hidup. Saya ingin Indonesia ini sadar bahwa kita punya kebudayaan begitu kaya. Makanya sejak dulu saya ingin ada desa budaya-desa budaya di seluruh Tanah Air. Masa depan Indonesia itu ada di desa. Saya yakin kalau desa itu hidup, separuh dari penduduk Jakarta ini pulang kampung.”

Dunia sastra Indonesia berduka cita. Penulis sampaikan turut berduka cita sedalam-dalamnya kepada keluarga Gerson Poyk, termasuk mBak Fanny Jonathan putri yang selama ini sangat dekat dengan keseharian beliau, mewarisi semangat berkarja penuh idealisme tinggi dari Sang Ayahanda. Adios, Rest in Peace Bapak Gerson Poyk. Semoga arwahnya diterima di tempat terbaik di sisi-Nya. |@Indria Salim-24.02.2017

Referensi:

1

2

3

4

Tulisan ini sebelumnya dikirim Penulis di Kompasiana

Sunday, March 16, 2014

Ada Kisah Lebay, Ada Kisah Inspiratif

Siang ini saya melihat seorang teman membagi kisah tentang upaya seorang polisi muda, demi pengobatan anaknya yang terancam gangguan saraf serius, tak segan menjadi tukang  bakso di saat purna tugas.

Singkat cerita, Brigadir Wawan Mulya yang bertugas di Polsek Tarogong Garut, Jawa Barat dan isterinya, bergantian dagang bakso di warung di depan rumahnya. Wawan berjualan di sore hari selepas jam kantor, untuk menggantikan istrinya Lala (30) yang berjualan baso sejak pagi pukul 09.00 WIB. Ini demi pengobatan Rema (9 tahun), anak mereka yang mengidap gangguan kelenjar tiroid sehingga tak berfungsi. Gangguan ini mempengaruhi pertumbuhan tulang dan syaraf anak tercinta keluarga polisi ini.

Kisah Pak Polisi ini kalau benar adanya, bikin yang baca terharu biru. Tetapi saya percaya, masih banyak orang Indonesia (dan di belahan dunia mana pun) yang jujur, tulus, dan lurus.

Semoga kebaikan akan kembali pada diri pemiliknya. Entah dengan cara apa pun, kebaikan akan terus bergema.

Yang jahat itu adalah mereka yang punya akses dan kesempatan membantu, menolong orang lain yang membutuhkan, namun memanfaatkan hal ini dengan cara manipulatif. Misalnya, mengiming-imingi orang menjadi pengedar narkoba, melibatkan orang ikut korupsi, memprovokasi orang agar ikut cara kotor untuk kepentingan pribadi.

Saya selalu dalam hati mendoakan orang-orang baik dan bersahaja yang saya temui di taksi, di angkot, di jalan, di jembatan penyeberangan, di super market, di pasar dan terminal .. dan saat saya mendoakan mereka, pelupuk mata ini jadi menghangat dan membasah ..

Orang tulus, jujur, bersahaja, dan tangguh selalu berhasil menyentuh hati yang nyaris makin skeptis dengan banyaknya orang egois yang juga kulihat d tempat-tempat yang sama tadi.

#Monolog: Hidupku adalah perjuangan, tanganku kotor penuh lumpur dan abu, pekerjaanku membuat tidur kadang jadi tak beraturan. Namun, aku mengalami kemerdekaan pribadi. Merdeka karena itu semua pilihanku. Mengejar mimpi, menguatkan diri dan memantapkan janji pribadi .. untuk apa? Agar aku tidak mati sia-sia. Yang terakhir ini adalah doaku, juga doa buat orang-orang yang kucinta.

Saya ingin hidup cara sederhana. Sederhana, tidak semudah mengeja sembilan ketukan jari menuliskannya. Setidaknya, saya punya asa.

#selintas sehela napas -- Minggu, 16 Maret 2014~
Oleh penulis yang sama (saya sendiri), tulisan ini saya unggah di Kompasiana.com.

(Terinspirasi tulisan di “Koran Fesbuk”)